Kejadian ini terjadi pada Bulan Agustus 2004 yang lalu.
Sebenarnya aku ingin kuliah di Yogya,
karena kelihatannya kota tersebut
sangat nyaman untuk kuliah, tetapi
akhirnya aku kuliah di Semarang,
tempat masa kecilku dulu, karena
dalam UMPTN aku diterima di sebuah PTN di sana pada pilihan kedua. Sejak percintaanku dengan Mbak
Yuni, aku menjadi terobsesi untuk
bercinta dengan wanita yang usianya
sama dengan Mbak Yuni, terutama
ibu-ibu muda yang sudah mempunyai
anak, daripada wanita yang seusia atau lebih muda dariku. Jika sedang
berjalan-jalan di Mal, aku selalu
mencari pemandangan ibu-ibu muda
yang sedang berjalan-jalan bersama
anak dan suaminya. Ingin rasanya
aku bercinta dengan mereka. Tetapi hasratku itu hanya sebatas angan
semata karena aku tidak mempunyai
keberanian untuk malakukannya dan
bagaimana caranya, hingga saat-saat
yang kuimpikan akhirnya datang
juga. Kejadian ini terjadi pada waktu aku di semester 4. Suatu siang sehabis ujian semesteran
hari terakhir, aku jalan-jalan sendiri di
kawasan Simpang Lima, aku ingin
memuaskan hobiku memelototi ibu-
ibu muda. Setelah cukup puas aku
putuskan untuk pulang. Ketika sedang berjalan di area parkir mobil,
aku melihat seorang wanita yang
sedang sewot dengan kedua anaknya
(kelihatannya kembar). Kulihat
barang belanjaan yang dibawanya
jatuh berserakan. "Adik kok bandel banget sih.. Tuh kan
belanjaan mama pada jatuh" kata
wanita itu dengan nada kesal. Spontan saja aku ingin membantu
memunguti barang-barang yang
jatuh. "Iya.. Adik nggak boleh nakal,
kasihan kan mamanya, barangnya
jadi jatuh" kataku sambil memunguti
barang yang jatuh. Wanita itu agak
terkejut dengan kehadiranku.
"Eh.. Makasih, tuh kan apa kata Om, adik nggak boleh nakal" kata wanita
itu sambil ikut membungkuk
mengambil barang. Aku langsung refleks melihat ke arah
wanita itu yang tepat berada di
depanku dan aku mendapatkan
pemandangan yang sangat indah.
Belahan bajunya yang agak rendah
membuat kedua buah dadanya terlihat jelas begitu indah. Sepasang
buah dada yang putih mulus terlihat
menggantung dan sedikit
tergoncang-goncang. Aku leluasa
memandangnya karena aku memakai
topi. Sambil memunguti barang aku sesekali melirik ke arah pemandangan
yang mengasyikkan itu yang
membuatku terangsang. "Ini Mbak" kataku sambil
menyodorkan barang yang aku ambil.
"Terima kasih.." katanya sambil
tersenyum. Baru kusadari ternyata wanita ini
sangat cantik. Wajahnya putih bersih,
tubuhnya pun sexy menurutku. Lalu
ia masuk ke dalam sedan Viosnya.
Aku pun segera meninggalkan tempat
itu menuju parkiran motor dan pulang ke kos. Sampai di kos, aku rebahkan
badan di tempat tidur sambil
membayangkan pemandangan indah
yang baru saja aku lihat. Hal itu masih
terbayang-bayang berhari-hari. Aku
hanya bisa berkhayal bercinta dengannya sampai akhirnya aku
lampiaskan dengan onani. Karena sangat terobsesi untuk
bercinta dengannya, aku berusaha
untuk bertemu lagi dengannya.
Berkali-kali aku datang ke tempat
yang sama dengan harapan aku
dapat bertemu dengannya, tetapi tidak pernah bertemu. Suatu siang, kira-kira sebulan sejak
aku bertemu dengannya, aku
berjalan-jalan di Citraland Mal. Ketika
aku sedang berjalan, aku berpapasan
dengan seorang wanita, dan dalam
hati aku kenal wanita itu. Aku balikkan badan, dan ia pun
membalikkan badan. Aku ingat,
wanita itu adalah wanita yang selama
ini aku impikan siang dan malam. "Hei.. Kamu yang waktu itu nolongin
aku kan?"
"Iya Mbak" kataku dengan hati girang
karena wanita itu juga masih ingat
sama aku.
"Makasih lho sekali lagi" "Ah nggak apa apa, saya kan cuma
sekedar membantu" kataku sambil
memperhatikan bahwa wanita ini
memang TOP BGT. Ia memakai T-shirt
agak ketat dipadu jeans membuat
lekuk sexy tubuhnya terlihat. "Cari apa, kok sendirian " katanya.
"Ah enggak, lagi jalan-jalan aja"
kataku.
"Bagaimana, kalo sebagai ucapan
terima kasih, aku traktir kamu makan"
katanya. "Ah nggak usah Mbak" kataku basa-
basi, padahal dalam hati aku memang
ingin sekali berlama-lama dekat
dengannya. Dia memaksa, akhirnya
kami pun berjalan menuju KFC. Alangkah bahagianya aku waktu itu.
Kami pun berkenalan, namanya Mbak
Elga yang berumur 30 tahunan. Ia
tinggal di perumahan di kawasan
Semarang Atas bersama sepasang
anak lelaki kembarnya yang kini kelas 3 SD. Suaminya bekerja di Jakarta dan
pulang ke Semarang seminggu sekali.
Wah pasti kesepian wanita ini,
kesempatan pikirku. Ia tidak ikut ke Jakarta karena
suaminya hanya sementara saja
bertugas di Jakarta. Suaminya
sebenarnya menempati Cabang
Semarang, tetapi karena di Jakarta ada
kekosongan dan perlu segera diisi, maka suaminya ditarik sementara ke
Jakarta selama sekitar 7 bulan yaitu
sampai akhir tahun 2004, dan baru
berjalan 2 bulan. Karena itu ia tidak
ikut karena anaknya telanjur
bersekolah di Semarang. Ia dan suaminya berasal dari Jakarta. Ia siang
itu akan menjemput anaknya dari
sekolah. Setiap hari itulah pekerjaan
rutinnya mengantar dan menjemput
anak ke Sekolah. Selama mengobrol, mataku tak
pernah lepas memandang dadanya
yang menyembul indah dari balik t-
shirt ketatnya. Seperti biasa, aku
memakai topi sehingga aku leluasa
saja menikmati buah dadanya. Walaupun tertutup, aku bisa
membayangkan betapa indah isi yang
ada dibaliknya. Sepasang buah dada
yang luar biasa indah, putih, mulus,
ooh.. Ingin rasanya aku meremas,
mengulum, menjilat dan memelintir puting susunya sehingga ia
menggelinjang, mengerang dan
mendesah kenikmatan. Di akhir
obrolan ia memberikan alamat dan
nomor HP-nya dan mengundangku
untuk datang ke rumahnya. Sejak pertemuan kedua dengan Mbak
Elga, hasratku untuk dapat bercinta
dengannya semakin menggebu. Siang
malam aku memikirkan cara
bagaimana agar ia mau bercinta
denganku. Aku ragu karena aku lihat ia termasuk wanita yang baik dan
sopan, tidak pernah dia memancing
pembicaraan yang mengarah ke
urusan ranjang. Mungkin ia hanya
butuh teman ngobrol saja pikirku. Karena keinginanku yang sangat
besar, aku putuskan untuk pergi ke
rumahnya seminggu kemudian. Aku
berangkat dari kos dengan hati deg-
degan. Dalam hatiku berkata, kalau
tidak dicoba, bagaimana aku dapat yang aku inginkan. Targetku hari itu
adalah PDKT dengan Mbak Elga. Hari
itu Selasa sekitar pukul 09.00, karena
ia pasti di rumah hanya sendirian. Setelah sekitar 15 menit kemudian,
aku sampai di gerbang perumahan
yang cukup mewah. Aku dihentikan
oleh Satpam. Setelah aku jelaskan
bahwa aku akan bertamu ke rumah
Mbak Elga, aku diijinkan masuk setelah meninggalkan KTP. Dalam
hatiku berkata, pantas Mbak Elga
berani tinggal sendiri, rupanya
keamanan perumahan ini sangat
ketat, hanya ada satu pintu masuk.
Aku segera mencari rumah ke arah yang ditunjukkan Satpam. Tak lama
kemudian aku tiba di depan rumah
bernomor 19. Lalu aku pencet bel di
pagar rumah, dan beberapa saat
kemudian kulihat Mbak Elga keluar. "Eh.. Kamu Ris.." kata Mbak Elga sambil
membukakan pintu.
"Lagi ngapain Mbak. Ngganggu ya..?
Kataku basa-basi.
"Ah enggak, biasa lagi sibuk sama
urusan rumah tangga, namanya juga ibu rumah tangga.. Ayo masuk,
motormu masukin juga" Ia menggunakan T-shirt dan celana
pendek sehingga sepasang kakinya
yang indah terlihat. Rumahnya cukup
besar walau hanya 1 lantai. "Kamu santai aja di sini"
"Iya Mbak.."
"Kamu sengaja ke sini?"
"Enggak Mbak, tadi mau ke rumah
teman tapi orangnya pergi, rumahnya
deket sini ya daripada langsung pulang, aku mampir ke sini" kataku
berbohong.
"Kamu di sini dulu yach? Aku mau
nyelesein nyuci dulu, tinggal dikit lagi
kok, kamu kalo mo minum ambil
sendiri yach..?" Katanya sambil meninggalkanku menuju ke
belakang. Aku lalu nonton teve. Deg-degan juga
nih dada. Dalam pikiranku cuma
pengen ngentot tuh cewek, tapi
gimana ya caranya? Kurang lebih 15
menit, Mbak Elga selesai, lalu ia duduk
dan kami pun mengobrol ke sana kemari. Mataku sesekali melirik
pahanya yang putih mulus seakan
menantangku untuk menjamahnya.
Penisku tegang, kepalaku pusing,
kacau! "Oh iya.. Mumpung ada kamu, bantuin
aku menggeser meja itu ya" katanya
sambil menunjuk meja yang berisi
beragam hiasan kecil di atasnya.
"Digeser kemana Mbak?" tanyaku
sambil melangkah menuju meja yang dimaksud.
"Agak kesini dikit Ris, biar tidak terlalu
mepet dengan pintu" Kami berdua lalu menggeser meja
tersebut. Ketika sudah selesai dan aku
berniat duduk lagi di sofa, kakiku
tersandung kaki meja sehingga
keseimbanganku hilang. Badanku
langsung saja menubruk badan Mbak Elga dan menindihnya di atas sofa.
Wajahku menempel di wajahnya,
sesaat kami hanya berpandangan,
desahan hangat nafasnya kurasakan
menerpa wajahku. Kutatap matanya, kulihat bibirnya
merekah merah begitu indah
sehingga membuatku tak tahan untuk
tidak menikmati bibir indah tersebut.
Aku nekad, kalau dia marah, paling-
paling aku ditampar, dan itu pernah aku alami. Kukecup lembut bibirnya
dan kurasakan ia menyambut
kecupanku, tetapi itu hanya sesaat
karena ia melepaskan bibirnya dan
mendorong badanku. Akupun
tersadar dan segera berdiri. Aku lalu berjalan ke arah jendela, aku
menerawang keluar. Aku merasa
bersalah, tetapi juga bahagia. Kulihat
Mbak Elga masih termenung duduk di
atas sofa. Kami berdua terdiam
beberapa saat lamanya. Setelah beberapa saat kami berdua
terdiam, aku menghampiri Mbak Elga
dan duduk di sampingnya. "Mbak.. Aku minta maaf atas kejadian
tadi ya..?" Kataku.
"Kenapa tadi kamu menciumku Ris..?"
Kata Mbak Elga.
"Maaf Mbak, saya tadi nggak sadar, itu
terjadi begitu saja" kataku mencoba menghindar. Mbak Elga hanya terdiam mendengar
jawabanku sambil memandangku. "Ris.." Katanya terpotong. Aku hanya
diam sambil menunggu kelanjutan
katanya.
"Ris.. Apa kamu ingin melanjutkan
yang tadi?" tanya Mbak Elga. Aku terkejut mendengar
pertanyaannya. Tak tahu harus bilang
apa, sejujurnya aku ingin menjawab
bahwa aku memang sangat
menginginkannya, tapi entah kenapa
sepertinya kata-kata itu sulit keluar dari mulutku. Beberapa saat lamanya
kami hanya berpandangan. Aku
bingung apa yang harus aku lakukan,
kupandang tajam matanya dan
kusimpulkan lewat bahasa matanya,
bahwa dia juga menginginkanku seperti aku menginginkannya. Tanpa menjawab pertanyaannya aku
langsung melumat bibirnya kuat-kuat
dan ia juga membalasnya dengan
penuh nafsu dan terjadilah ciuman
panas yang penuh dengan gairah.
Tubuhnya kusandarkan di sofa. Beberapa saat lamanya kami saling
melumat bibir dan beradu lidah, nafas
kami mulai terengah-engah.
Tanganku kuarahkan ke dadanya lalu
kuremas buah dadanya dari balik T-
shirtnya. Badannya mulai menggelinjang
terbakar gairah. Ia melepas
ciumannya, lalu ia lepaskan T-shirt
dan BH yang dikenakannya. Kulihat
sepasang buah dada yang sangat
indah berukuran sedang yang masih kencang, putih tetapi terlihat ada
beberapa bekas cupang. Mungkin
bekas cupang suaminya. Langsung
aku serang buah dada itu. Dengan
penuh nafsu aku jilati, kulumat, dan
kuhisap kedua buah dadanya bergantian. "Ooh.. Terus Ris.. Enak.. Sedot teruss.."
kata Mbak Elga sambil menggelinjang
kesana kemari. Buah dada itu semakin keras dan
kenyal sehingga membuatku semakin
gemas untuk menikmatinya.
Tanganku mengelus-elus pahanya
yang mulus, lalu tanganku kuarahkan
ke pangkal pahanya, kubuka resliting celananya, kutelusupkan tanganku ke
arah memeknya yang ternyata telah
basah, aku usap lembut memeknya di
atas celana dalamnya. "Ris.. Kita ke kamar aja yach.." kata
Mbak Elga. Aku mengangguk kecil
tanda setuju. Aku lalu mengangkat tubuh Mbak
Elga yang setengah telanjang menuju
ke kamar yang ditunjukkannya.
Kamar itu cukup luas dengan spring
bed yang kelihatannya sangat nikmat
untuk bercinta. Aku rebahkan tubuh wanita cantik ini di atas ranjang lalu
aku copot celana yang masih
menutupi sebagian tubuhnya dan kini
ia telah benar-benar telanjang. Aku terpana melihatnya. Bagiku Mbak
Elga begitu sempurna sebagai
seorang wanita. Badannya sexy,
putih, mulus, sepasang buah dadanya
juga indah, kakinya, pokoknya
semuanya TOB deh. Apalagi posisinya sekarang yang sangat menantang.
Tubuh mulusnya telentang tanpa
ditutupi sehelai benang pun. Posisinya
di ranjang agak mengangkang,
memperlihatkan miliknya tanpa malu-
malu. Buah dadanya yang indah dengan putingnya yang mengacung
membuatku semakin tak kuasa untuk
menahan nafsu. Kutelan ludahku
yang terasa mengental. "Aris.. Kok malah bengong, ayo sini.."
Kata Mbak Elga dengan genit. Aku tersadar dari lamunanku dan
segera kupereteli pakaianku dan kini
aku juga sudah telanjang. Kurasakan
penisku sudah tegang dan
berdenyut-denyut, terasa lebih keras
dari biasanya. Segera aku naik ke atas ranjang, lalu aku berbaring di sebelah
tubuhnya. Aku belai rambutnya, ia
tersenyum manja. Kupandangi
wajahnya, betapa cantik wanita ini,
lalu aku kecup bibirnya. Mulutku
mengecup dan mengulum bibir Mbak Elga yang hangat dan basah. Ia
meladeni dengan segenap nafsu. Ia
julurkan lidahnya, dengan segera aku
kulum lidahnya, terasa nikmat sekali. "Ohh.. Riss.." desahnya dengan mata
yang sayu. Kulihat bibir merahnya yang indah
penuh dengan air liurku. Setelah puas
melumat bibir merahnya aku ciumi
lehernya lalu ke arah dadanya. Sesaat
aku pandangi buah dada milik wanita
cantik ini. Benda ini yang membuatku tak bisa melupakannya, dan kini tidak
hanya bisa aku bayangkan, tetapi aku
juga bisa menikmatinya. Kuremas
dengan gemas kedua buah dadanya
dengan kedua tanganku, terasa
kenyal menggemaskan dan tidak membosankan untuk
mempermainkannya. Ukurannya
memang sedang, tetapi sangat indah
bentuknya dan terlihat terawat. "Oouuffss.. Ahh.. Auww.." erang Mbak
Elga terus menerus. Kini giliran mulutku yang akan
melahap buah dada ini, aku kecup
dan kusedot puting buah dada
sebelah kanan dan kiri secara
bergantian membuat Mbak Elga
semakin terbakar gairahnya. Kuhisap kuat-kuat buah dadanya sambil
sesekali kugigit puting susunya. Ia
mendesah-desah erotis sambil
meremas-remas rambutku, menikmati
sensasi permainan mulutku di
dadanya. "Auww.. Oh my god.. Ohh.. Auww..",
Mbak Elga berteriak-teriak penuh
kenikmatan, membuatku semakin
bersemangat untuk terus menghisap
dan mengulum buah dada wanita
cantik ini. Buah dadanya terus kukulum,
kuhisap, kujilati, dan kupelintir
berulang kali membuatnya semakin
terbakar gairah. Sejenak aku lepaskan
mulutku dari buah dadanya. Aku
pandangi wajahnya yang terlihat sayu, wajahnya penuh dengan peluh,
bibir merahnya bergetar. Aku kembali melahap buah dadanya
sambil mempermainkan memeknya.
Jariku kumasukkan ke dalam lubang
yang semakin licin karena cairan
kewanitaannya yang mengalir deras.
Itilnya kugesek-gesek hingga membuat tubuhnya menggelinjang
tak karuan kesana kemari. "Sayang.. Teruss.. Sedot terus Riss..
Aahh.. Auww.. Aahh.." erang Mbak
Elga penuh rasa nikmat sambil
sesekali menelan ludahnya yang
mengental. Kini kuarahkan kepalaku ke
selangkangannya. Aku pandangi
memek merah yang mengkilat karena
basah oleh cairan kewanitaannya.
Rumput hitam yang cukup tebal
tampak tumbuh di sekitarnya, pemandangan yang sangat
menakjubkan. Kudekatkan mulutku
dan tercium aroma khas wanita yang
membuatku semakin bernafsu. Aku
mulai menjilati memek Mbak Elga,
kujulurkan lidahku dalam-dalam sambil sesekali kusedot kuat-kuat.
Setiap kali lidahku menggelitik
clitorisnya, ia mengerang keras penuh
nikmat. Pinggulnya bergerak tak
karuan sehingga membuatku harus
memegang pahanya agar aku tetap dapat menikmati memeknya.
Cairannya semakin deras mengalir,
membuatku mau tak mau
menghisapnya, terasa hangat dan
gurih. "Oh my god.. Aahh.. Terus.. Enak Ris..
Aauuww.. Aaww.." Mbak Elga menjerit
tak karuan, apalagi ketika lidahku
menyentuh klitorisnya, ia menjerit
keras sambil menggelinjang kuat. Aku benar-benar puas melihatnya
seperti ini. Sesekali aku lepasku
mulutku dari jepitan
selangkangannya untuk mengambil
nafas sejenak, lalu aku lakukan lagi
hal yang sama. Mbak Elga semakin keras mendesah, gerakan tubuhnya
juga semakin tak terkendali. Dia akan
segera mencapai puncak. Aku
percepat sedotan, kecupan, jilatan
mulut dan lidahku di memeknya. "Ayo sayang.. Aku mo kel.. Luar nih..
Ahh.. Yang cepaat.. Oohh.. Sshh..
Oohh.." katanya sambil menjerit-jerit
kenikmatan. Aku percepat gerakan lidahku dan
kemudian Mbak Elga orgasme, ia
mengangkat pinggulnya, kedua
pahanya mengapit kuat kepalaku,
dan kurasakan cairan yang sangat
banyak menyiram mulutku. "Ohh.. Yess.. Oh my god.. Oohh..
Oohh.." Mbak Elga mendesah panjang
ketika berhasil mencapai puncak
kenikmatan. Kuhisap cairan yang keluar. Badannya
bergetar hebat beberapa saat.
Kubiarkan sejenak mulutku tetap di
selangkangan pahanya, membiarkan
ia menikmati apa yang baru saja
diraihnya. Kukecup lembut bibir vaginanya yang masih berdenyut-
denyut mengeluarkan sisa-sisa cairan. Aku lalu berbaring di sebelahnya
sambil membelai rambutnya. Kulihat
wajahnya penuh dengan keringat,
telihat kepuasan terpancar dari wajah
cantiknya. Kukecup lembut bibirnya. "Thanks Ris.. Aku puas banget.." kata
Mbak Elga.
"Mau lagi kan Mbak? Kataku
menggoda.
"Iya, tapi aku juga pengen menikmati
punya kamu dulu" katanya sambil menggenggam penisku. Aku mengerti apa yang
diinginkannya, lalu telentang dan ia
mengarahkan mulutnya ke arah
penisku. Tangannya menggenggam
batang penisku lalu dikecupnya ujung
penisku, ia mulai menjilati kepala dan batang penisku sambil dikocok-
kocok dengan tangan lembutnya.
Dimasukkannya penisku ke dalam
mulutnya dan kurasakan ia begitu
pintar memainkan lidahnya
menggelitik penisku. Disapunya semua permukaan penisku
mulai dari bawah hingga ke atas,
permainan lidahnya dengan lincah
menggelitik setiap mili bagian
penisku. Serasa aku melayang ke
awang-awang, aku hanya bisa mendesah meresapi betapa pintarnya
Mbak Elga memberikan aku kepuasan.
Kalau ini diteruskan bisa jebol
pertahananku. Setelah beberapa lama
Mbak Elga puas menikmati penisku, ia
melepaskan mulutnya. "Ris.. Puasin aku sekarang yach.."
katanya sambil telentang di
sampingku. Aku segera mengarahkan penisku ke
arah memeknya. Kini penisku telah
sampai di mulut vaginanya, kepala
penisku menempel di bibir memeknya
yang merah basah. Aku mulai
melesakkan penisku ke dalam memeknya dengan perlahan sambil
kunikmati nikmatnya gesekan batang
penisku dengan dinding vaginanya.
Penisku tidak mengalami kesulitan
membelah memeknya yang sudah
sangat basah. Kulihat Mbak Elga juga menikmati hal ini, matanya terpejam
meresapi sensasi gesekan alat kelamin
kami sambil menggigit-gigit sendiri
bibirnya. Aku mulai menggerakkan pinggulku
pelan-pelan. Kurasakan gesekan
penisku dengan memeknya begitu
nikmat, mungkin karena lama aku
tidak merasakannya. Mbak Elga
seperti biasa, ia mendesah-desah, matanya merem melek kenikmatan. Ia
gerakkan pinggulnya mengimbangi
permainanku.